Rabu, 23 Oktober 2013

Tugas Bahasa Indonesia 1

Nama                  :  MUH ERVAN
NPM                    :  1A113021
Kelas                  :  4KA38
Hari /tanggal       :  Sabtu, 26 Oktober 2013


“Meletusnya Gunung Merapi Di Yogyakarta 26 oktober 2010”

 
Meletusnya Gunung Merapi Di Pulau Jawa yang terjadi pada tanggal 26 oktober 2010 membuat resah masyarakat yang berada di sekitaran gunung tersebut. Meletusnya gunung merapi telah memakan beberapa korban jiwa dan juga menewaskan Sang Juru Kunci Gunung tersebut, yaitu “Mbah Maridjan”. Bencana alam ini membawa duka seluruh Rakyat Indonesia  dan Dunia. Guguran lava pijar dan abu vulkanik panas yang juga disebut sebagai “Wedhus Gembel” mencapai 600 Derajat Celcius ini menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya, termasuk desa dan rumah tinggal mbah Maridjan. “Status Awas” terus dilakukan oleh Pemerintah DIY dan sekitarnya karena gejala alam ini sangat sulit untuk diprediksikan. Desa-desa yang terdapat dalam radius kurang lebih 10km dari gunung merapi diharapkan bisa dilakukan evakuasi untuk berjaga-jaga apabila eruption berganti arah begitupula dengan arah angin yang dapat membawa debu vulkanik yang dapat mengganggu pernapasan manusia. Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10 ketika diwawancarai oleh TV ONE mengatakan. “Kondisi kota Yogyakarta Aman, Jadi jangan sungkan untuk datang ke kota ini, Gunung Merapi tidak akan meledak, tetapi hanya mengeluarkan Eruption dan Radius Eruption tersebut tidak mencapai lebih dari jarak 10km”. Hal tersebut yang menjadikan warga masyarakat Yogyakarta merasa aman dan tetap melakukan aktifitas seperti biasanya.
Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya mempercayai bahwa Letusan Gunung Merapi selalu memberikan berkah kepada masyarakatnya. Jika Gunung tersebut meletus, mereka mempercayai sebagai efek alam yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia sebagai hal yang harus disikapi secara positif karena gunung tersebut harus meletus. Pertimbangan Bencana Alam yang membawa efek Positif ini adalah sebagai berikut :
Gunung Merapi melakukan erupsi dengan Jalur erupsi yang sudah ada sejak letusan sebelumnya dan Eruption tersebut membawa material-material vulkanik yang nantinya berguna bagi manusia disekitarnya, yaitu menyuburkan tanah-tanah perkebunan dan persawahan, memberikan pasir kepada masyarakat yang bekerja sebagai penambang pasir, Batu-batuan dan bahan bangunan lainnya, sehingga kesejahteraan kehidupan manusia disekitarnya tetap terjadi. Hal lain yang perlu disikapi adalah sebagai pertanda bahwa alam akan marah jika tidak dijaga keberadaannya dan kelestariannya.
Ada juga manusia yang memanfaatkan hal ini sebagai bisnis media atau bisnis lainnya yang menjadikan manusia semakin kecil di mata Tuhan. Mereka menelurkan hal-hal negatif dengan memperkeruh suasana yang membuat warga Yogyakarta dan sekitarnya menjadi panik. Perkembangan teknologi dan globalisasi memang patut diwaspadai oleh manusia itu sendiri. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengirimkan sms yang isinya meresahkan masyarakat Yogyakarta beberap hari ini yang isinya adalah merapi akan meletus dan hujan abu vulkanik panas akan terjadi di kota Yogyakarta pada tengah malam. Hal ini membuat resah masyarakat Yogyakarta. Tetapi hal ini tidak bisa begitu saja diterima karena mereka lebih mempercayai amandat Sri Sultan sebagai Raja yang punya andil besar kepada rakyatnya dan mengetahui secara pasti akan keberadaan dan efek akibat meletusnya gunung merapi tersebut. Isi dari sms tersebut adalah sebagai berikut :
“ Bpk/ibu yg kekasih. Untk warga jogya dan sekitarnya kl bs nnt mlm jgn tertidur pulas…diperkirakan merapi meletus pd dini hr…Dan diperkirakan arah abu vulkanik ke arahs selatan gunung merapi…dan kemungkinan jogya akan banjir oleh abu panas vulkanik merapi….sebarkan ke yg lain demi keselamatan kita semua….sangat dianjurkan memakai masker karna abu panas vulkanik berbahaya. Dr Dhadung Hartono, mas agung di pos merapi. Terimakasih ”.
Mungkin isi sms ini ada benarnya jika diterima sebelum gunung merapi meletus hingga menewaskan 15 orang warga disekitaran rumah Mbah Maridjan (sang juru kunci), tetapi jika sms ini berlarut-larut atau telat diterima oleh sebagian masyarakat Yogyakarta, maka akan menimbulkan efek keresahan bagi warganya. Sms ini dapat dikatakan tidak sepenuhnya salah jika ada keterangan yang disertai tanggal dan jam meletusnya, jika tidak ada, maka hal negative yang dipikirkan oleh warga adalah merapi meletus “nanti malam” setelah mereka mendapat sms hari tersebut. Hal ini menjadikan masyarakat Yogyakarta selalu resah. Maka telah sms tersebut sebelum kita sebarkan.
Hal positif yang dapat diambil dari sms ini adalah kita harus selalu waspada terhadap bencana yang dapat selalu terjadi dimana-mana yang membuat kita selalu siap setiap saat. Sms ini dapat disikapi dengan melihat fakta yang terjadi dan dapat dilihat dari berita-berita yang dilakukan oleh media elektronik yang meliput langsung di sekitaran gunung merapi tersebut. (Terimakasih).
Referensi :

Menurut saya, peristiwa diatas ada beberapa penulisan dan penggunaan bahsa masih belum menggunakan ragam bahasa baku sesuai EYD. Sebagai contoh, penulisankata “di” dalam kalimat “Di Pulau Jawa”. Penulisan seharusnya apabila menggunakan ragam bahasa baku sesuai EYD adalah “di Pulau Jawa”.
Kemudian penulisan yang belum menggunakan ragam bahasa baku adalah kata “disekitaran”. Penulisan tersebut juga merupakan bentuk kalimat/kata yang tidak efektif. Seharusnya penulisan cukup dengan “disekitar” saja. Berikut beberapa kata yang belum dan sudah menggunakan ragam bahasa baku sesuai EYD :
Sang Juru Kunci Gunung   : Penulisan dengan menggunakan huruf besar adalah sesuai     dengan  EYD;
Eruption                        : menggunakan kata serapan dari bahasa indonesia yang salah,  seharusnya “erupsi”
Tuhan                                     : penggunaan huruf kapital diawal kata adalah sesuai dengan EYD,
Yogyakarta                            : penggunaan huruf kapital diawal kata adalah sesuai dengan EYD,
Amandat                          : percampuran kata yang kurang efektif, dikarenakan terkesan      memiliki 2 arti, yaitu “amanat” dan “mandat”
Kekasih                       kata tersebut adalah kata serapan dari bahasa jawa keraton di Yogyakarta, namun bisa juga diartikan kedalam bahasa indonesia        

Analisa Peristiwa :
Kenaikan aktivitas tak kurang dari 20 gunung berapi di Indonesia mendapatkan perhatian dari para pakar dalam dan luar negeri yang dianggap sebagai kejadian yang belum pernah terjadi.

Gunung Merapi di Jawa Tengah telah meletus beberapa kali sejak 26 Oktober sementara gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menunjukkan peningkatan aktivitas.

Kantor berita Antara melaporkan data di pos pemantau sampai 28 Oktober menunjukkan, gunung Anak Krakatau mengeluarkan letusan sebanyak 117 kali. Letusan tersebut tidak menimbulkan korban, namun di Jawa Tengah dan Yogyakarta, letusan Merapi menewaskan 38 orang.

Pakar geofisika dari Islandia, Pall Einarsson, kepada kantor berita Associated Press mengatakan kenaikan aktivitas sepertinya menunjukkan bahwa kegiatan di satu gunung berapi mempengaruhi gunung-gunung di sekitarnya.

"Gejala ini adalah sesuatu yang baru bagi para ahli gunung berapi," kata Einarsson, yang sehari-hari mengajar di Universitas Islandia pada bidang studi Restrukturisasi Patahan

Dalam dua bulan terakhir Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status 20 gunung berapi.

Brent McInnes, ahli geologi dari Universitas Curtin di Australia mengatakan ia belum melihat data awal aktivitas gunung-gunung ini, namun ia mengatakan kenaikan secara tiba-tiba ke-20 gunung tersebut memiliki makna penting.

"Jika memang benar ada lebih dari 20 gunung yang menunjukkan peningkatan aktivitas, maka itu adalah sesuatu yang harus diperhatikan," kata McInnes.

Menurut McInnes peningkatan aktivitas bisa dibaca sebagai indikasi sedang berlangsungnya restrukturisasi patahan di kawasan.

Namun para pakar gempa memperingatkan walaupun pola erupsi bisa dipelajari, letusan gunung dan gempa bumi tidak bisa diramalkan dengan akurat. "Bagi saya ini adalah fluktuasi kegiatan gunung berapi yang acak dan normal," kata John Ebel, guru besar geofisika di Universitas Boston.

Sebelum Merapi meletus, sekitar 24 jam sebelumnya terjadi gempa hebat berkekuatan 7,7 pada skala Richter di Kepulauan Mentawai yang memicu tsunami.

Pusat gempa berada di garis patahan yang sama dengan gempa yang menyebabkan tsunami dahsyat yang memporak-porandakan Aceh dan menewaskan 230.000 orang di beberapa negara.(*/dar) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar