NPM : 1A113021
Kelas : 4KA38
Hari /tanggal : Sabtu, 26 Oktober 2013
“Meletusnya Gunung Merapi Di Yogyakarta 26 oktober 2010”
Meletusnya Gunung Merapi Di
Pulau Jawa yang terjadi pada tanggal 26 oktober 2010 membuat resah
masyarakat yang berada di sekitaran gunung tersebut. Meletusnya gunung
merapi telah memakan beberapa korban jiwa
dan juga menewaskan Sang Juru Kunci Gunung tersebut, yaitu “Mbah
Maridjan”. Bencana alam ini membawa duka seluruh Rakyat Indonesia dan Dunia.
Guguran lava pijar dan abu vulkanik panas yang juga disebut sebagai “Wedhus
Gembel” mencapai 600 Derajat Celcius ini menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya,
termasuk desa dan rumah tinggal mbah Maridjan. “Status Awas” terus dilakukan oleh
Pemerintah DIY dan sekitarnya karena gejala alam ini sangat sulit untuk
diprediksikan. Desa-desa yang terdapat dalam radius kurang
lebih 10km dari gunung merapi diharapkan bisa dilakukan evakuasi untuk
berjaga-jaga apabila eruption berganti arah begitupula dengan
arah angin yang dapat membawa debu vulkanik yang dapat mengganggu pernapasan
manusia. Sri Sultan
Hamengkubuwono ke-10 ketika diwawancarai oleh TV ONE mengatakan. “Kondisi kota Yogyakarta Aman, Jadi jangan sungkan untuk datang
ke kota ini, Gunung Merapi tidak akan meledak, tetapi hanya mengeluarkan
Eruption dan Radius Eruption tersebut tidak mencapai lebih dari jarak 10km”. Hal tersebut yang menjadikan warga masyarakat Yogyakarta
merasa aman dan tetap melakukan aktifitas seperti biasanya.
Masyarakat Yogyakarta dan
sekitarnya mempercayai bahwa Letusan Gunung Merapi selalu memberikan berkah
kepada masyarakatnya. Jika Gunung tersebut meletus, mereka mempercayai sebagai
efek alam yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia sebagai hal yang
harus disikapi secara positif karena gunung tersebut harus meletus. Pertimbangan Bencana Alam
yang membawa efek Positif ini adalah sebagai berikut :
Gunung Merapi melakukan erupsi dengan Jalur erupsi yang sudah
ada sejak letusan sebelumnya dan Eruption tersebut membawa material-material
vulkanik yang nantinya berguna bagi manusia disekitarnya, yaitu menyuburkan
tanah-tanah perkebunan dan persawahan, memberikan pasir kepada masyarakat yang
bekerja sebagai penambang pasir, Batu-batuan dan bahan bangunan lainnya,
sehingga kesejahteraan kehidupan manusia disekitarnya tetap terjadi. Hal lain
yang perlu disikapi adalah sebagai pertanda bahwa alam akan marah jika tidak
dijaga keberadaannya dan kelestariannya.
Ada juga manusia yang memanfaatkan hal ini sebagai bisnis media
atau bisnis lainnya yang menjadikan manusia semakin kecil di mata Tuhan.
Mereka menelurkan hal-hal negatif dengan memperkeruh suasana yang membuat warga
Yogyakarta dan sekitarnya menjadi panik. Perkembangan teknologi dan
globalisasi memang patut diwaspadai oleh manusia itu sendiri. Orang-orang yang
tidak bertanggung jawab mengirimkan sms yang isinya meresahkan masyarakat
Yogyakarta beberap hari ini yang isinya adalah merapi akan meletus dan hujan
abu vulkanik panas akan terjadi di kota Yogyakarta pada tengah malam. Hal ini
membuat resah masyarakat Yogyakarta. Tetapi hal ini tidak bisa begitu saja
diterima karena mereka lebih mempercayai amandat Sri Sultan sebagai Raja
yang punya andil besar kepada rakyatnya dan mengetahui secara pasti akan
keberadaan dan efek akibat meletusnya gunung merapi tersebut. Isi dari sms
tersebut adalah sebagai berikut :
“ Bpk/ibu yg kekasih. Untk warga jogya dan sekitarnya kl
bs nnt mlm jgn tertidur pulas…diperkirakan merapi meletus pd dini hr…Dan
diperkirakan arah abu vulkanik ke arahs selatan gunung merapi…dan kemungkinan
jogya akan banjir oleh abu panas vulkanik merapi….sebarkan ke yg lain demi
keselamatan kita semua….sangat dianjurkan memakai masker karna abu panas
vulkanik berbahaya. Dr Dhadung Hartono, mas agung di pos merapi. Terimakasih ”.
Mungkin isi sms ini ada
benarnya jika diterima sebelum gunung merapi meletus hingga menewaskan 15 orang
warga disekitaran rumah Mbah Maridjan (sang juru kunci), tetapi jika sms
ini berlarut-larut atau telat diterima oleh sebagian masyarakat Yogyakarta,
maka akan menimbulkan efek keresahan bagi warganya. Sms ini dapat dikatakan
tidak sepenuhnya salah jika ada keterangan yang disertai tanggal dan jam
meletusnya, jika tidak ada, maka hal negative yang dipikirkan oleh warga adalah
merapi meletus “nanti malam” setelah mereka mendapat sms hari tersebut. Hal ini
menjadikan masyarakat Yogyakarta selalu resah. Maka telah sms tersebut sebelum
kita sebarkan.
Hal positif yang dapat
diambil dari sms ini adalah kita harus selalu waspada terhadap bencana yang
dapat selalu terjadi dimana-mana yang membuat kita selalu siap setiap saat. Sms
ini dapat disikapi dengan melihat fakta yang terjadi dan dapat dilihat dari
berita-berita yang dilakukan oleh media elektronik yang
meliput langsung di sekitaran gunung merapi tersebut. (Terimakasih).
Referensi :
Menurut saya, peristiwa diatas ada beberapa penulisan dan
penggunaan bahsa masih belum menggunakan ragam bahasa baku sesuai EYD. Sebagai
contoh, penulisankata “di” dalam kalimat “Di Pulau Jawa”. Penulisan seharusnya
apabila menggunakan ragam bahasa baku sesuai EYD adalah “di Pulau Jawa”.
Kemudian penulisan yang belum menggunakan ragam bahasa baku adalah
kata “disekitaran”. Penulisan tersebut juga merupakan bentuk kalimat/kata yang
tidak efektif. Seharusnya penulisan cukup dengan “disekitar” saja. Berikut beberapa
kata yang belum dan sudah menggunakan ragam bahasa baku sesuai EYD :
Sang Juru Kunci Gunung : Penulisan dengan menggunakan huruf besar adalah sesuai dengan
EYD;
Eruption : menggunakan kata serapan dari bahasa indonesia
yang salah, seharusnya “erupsi”
Tuhan : penggunaan huruf kapital diawal kata adalah
sesuai dengan EYD,
Yogyakarta : penggunaan huruf kapital diawal kata adalah
sesuai dengan EYD,
Amandat : percampuran kata yang kurang efektif,
dikarenakan terkesan memiliki 2 arti, yaitu “amanat” dan “mandat”
Kekasih : kata tersebut adalah kata serapan dari bahasa jawa keraton di
Yogyakarta, namun bisa juga diartikan kedalam bahasa indonesia
Analisa Peristiwa :
Kenaikan
aktivitas tak kurang dari 20 gunung berapi di Indonesia mendapatkan perhatian
dari para pakar dalam dan luar negeri yang dianggap sebagai kejadian yang belum
pernah terjadi.
Gunung Merapi di Jawa Tengah telah meletus beberapa kali sejak 26 Oktober sementara gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menunjukkan peningkatan aktivitas.
Gunung Merapi di Jawa Tengah telah meletus beberapa kali sejak 26 Oktober sementara gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menunjukkan peningkatan aktivitas.
Kantor berita
Antara melaporkan data di pos pemantau sampai 28 Oktober menunjukkan, gunung
Anak Krakatau mengeluarkan letusan sebanyak 117 kali. Letusan tersebut tidak
menimbulkan korban, namun di Jawa Tengah dan Yogyakarta, letusan Merapi
menewaskan 38 orang.
Pakar
geofisika dari Islandia, Pall Einarsson, kepada kantor berita Associated Press
mengatakan kenaikan aktivitas sepertinya menunjukkan bahwa kegiatan di satu
gunung berapi mempengaruhi gunung-gunung di sekitarnya.
"Gejala
ini adalah sesuatu yang baru bagi para ahli gunung berapi," kata
Einarsson, yang sehari-hari mengajar di Universitas Islandia pada bidang studi
Restrukturisasi Patahan
Dalam dua bulan terakhir Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status 20 gunung berapi.
Dalam dua bulan terakhir Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status 20 gunung berapi.
Brent McInnes,
ahli geologi dari Universitas Curtin di Australia mengatakan ia belum melihat
data awal aktivitas gunung-gunung ini, namun ia mengatakan kenaikan secara
tiba-tiba ke-20 gunung tersebut memiliki makna penting.
"Jika
memang benar ada lebih dari 20 gunung yang menunjukkan peningkatan aktivitas,
maka itu adalah sesuatu yang harus diperhatikan," kata McInnes.
Menurut
McInnes peningkatan aktivitas bisa dibaca sebagai indikasi sedang
berlangsungnya restrukturisasi patahan di kawasan.
Namun para
pakar gempa memperingatkan walaupun pola erupsi bisa dipelajari, letusan gunung
dan gempa bumi tidak bisa diramalkan dengan akurat. "Bagi saya ini adalah
fluktuasi kegiatan gunung berapi yang acak dan normal," kata John Ebel,
guru besar geofisika di Universitas Boston.
Sebelum Merapi
meletus, sekitar 24 jam sebelumnya terjadi gempa hebat berkekuatan 7,7 pada
skala Richter di Kepulauan Mentawai yang memicu tsunami.
Pusat gempa
berada di garis patahan yang sama dengan gempa yang menyebabkan tsunami dahsyat
yang memporak-porandakan Aceh dan menewaskan 230.000 orang di beberapa negara.(*/dar)
